Sebelum Senja Menyapa
BIOGRAFI AJENG RETNO
WULANDARI
Ajeng Retno Wulandari, itulah
nama yang diberikan kedua orangtua ketika aku lahir dan mulai merasakan
segarnya udara dunia. aku lahir di desa kecil bernama Bage Tango yang tak jauh
di pusat Kota Sumbawa Besar. dilahirkan dari kedua orang tua yang luar biasa,
Zubaida dan Misno Wardana. Mereka sangat sayang kepadaku. Hingga rasa cinta dan
sayangnya itu tak mampu ku ukir.
Aku lahir di kota kecil yang
begitu bersejarah bagiku, Sumbawa Besar. Kota kecil yang mengajarkanku memahami
dunia. Kota kecil yang mengajarkanku memahami ilmu pengetahuan dan
mengenalkanku pada teman-teman yang begitu inspiratif juga guru-guru yang
selalu memberi inovasi. Pendidikan dasar kumulai di Sekolah Dasar Negeri
Langam, sebuah sekolah kecil di kecamatan Langam. Tak gampang bersekolah di
daerah terpencil seperti ini, namun segala suka dan duka itu selalu kuhadapi
dengan senyum dan terus kucoba memompa semangatku meski itu sulit. Ya, tapi
semuanya mungkin, itulah hal yang selalu ditanamkan kedua orangtuaku sejak
kecil hingga saat ini.
Disekolah dasar aku belajar
memahami semuanya, belajar memahami pelajaran, teman-teman, guru, juga orangtua
yang tak pernah lepas dari diri dan hidupku. Memang tak banyak yang mampu
kuingat dari setiap ceritaku di Sekolah Dasar, namun ada 1 hal yang selalu
kuingat hingga saat ini, yaitu betapa kedua orangtuaku berjuang banting tulang
mencari nafkah untuk kelanjutan sekolahku juga untuk masa depanku.
6 tahun menempuh pendidikan dasar
bukanlah waktu yang singkat. Gerbang utama mencapai mimpi itu kulalui dengan
berbagai suka dan duka. Susah senang kulalui dengan hasil memuaskan di akhir
ceritaku di sekolah. Gerbang itu kututup dengan harapan yang begitu tinggi, ya
aku harus melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi, Sekolah Menengah
Pertama.
Ketika semua teman dengan bangga
memperebutkan sekolah-sekolah umum favorit yang mereka sukai dan harapkan,
anganku justru melayang jauh ke tempat yang tak pernah dibayangkan
teman-temanku, Pondok Pesantren. Keinginan masuk dan melanjutkan study di
pondok pesantren adalah keinginan yang sudah ada sejak aku menginjakkan kaki di
kelas 4 SD. Namun, hal itu belum berani kuutarakan pada kedua orangtuaku. Aku
tak berani mengutarakan keinginanku itu karena aku takut jika mereka tau, aku
tak mampu melihat mereka harus banting tulang kesana kemari mencari biaya untuk
pendidikan kukelak. Hingga akhirnya, keinginan itu kuutarakan kepada keduanya
selepas hari perpisahan siswa kelas 6 saat itu. Rasa takut, bingung menyatu
bagai kegelapan yang membalut otakku. Namun, kucoba tahan dan menunggu apa
sekiranya jawaban yang akan mereka berikan kepadaku.
Malam itu, aku dipanggil dan
meminta bertemu dan duduk santai bersama mereka di depan rumah. Sambil
memandangi langit dan bintang yang sesekali mengedipkan mata padaku, aku
mencoba tersenyum kepada keduanya menunggu apa kiranya jawaban yang akan di
berikan kepadaku.
“Gimana perpisahan kemaren?”
Tanya bapak padaku.
Pertanyaan itu setidaknya
membuang semua rasa takut, cemas dan gelisahku sejenak. Setidaknya ada angin
segar yang bisa kuhirup sebelum mereka benar-benar memberikan jawabannya
kepadaku.
“Alhamdulillah, saya senang pak
bisa selesai dengan dari sekolah. Dan perpisahan kemaren cukup menarik.”
Jawaban lugu seorang anak kecil yang tak mampu kulupakan dan selalu membuatku
tertawa geli jika mengingat malam itu.
Mereka berdua tertawa melihatku.
Tawa dan canda mereka sirna perlahan ketika mereka menanyakan hal yang telah
kuutarakan sebelumnya pada mereka.
“mama boleh tau gak, kenapa kamu
mau ke Pesantren? Kenapa gak disini aja.” Tanya mama padaku.
Jantungku berdegup kencang.
Pikiranku mulai terbelah, hancur perlahan dan hilang. Aku bingung entah
bagaimana menjelaskannya. Namun yang aku tau, aku hanya ingin sekolah di Pondok
Pesantren. Aku ingin hidup dilingkungan yang terjaga, hidup dilingkungan yang
mengenalkanku kemandirian, kedisiplinan, dan persahabatan yang begitu erat dan
tentunya ilmu yang begitu luas. Baik itu pelajaran umum seperti yang diajarkan
di sekolah-sekolah pada umumnya juga ilmu agama yang tak kudapatkan di
sekolah-sekolah umum.
Dengan lugu dan takut, aku
mencoba menjelaskan keinginan itu. Mereka mencoba mengangguk dan anggukan itu
adalah isyarat bahwa mereka mengerti keinginanku. Tapi jawaban itu belum juga
keluar dari keduanya. Aku mulai lesu dan patah semangat. Karena aku tak tau
sama sekali, apakah aku akan didukung untuk masuk pesantren ataukah tidak.
“jeng, bapak dan mama gak bisa
begitu saja melepasmu pergi ketempat yang begitu jauh.” Dug, aku sontak kaget
dengan pernyataan pertama dari keduanya. “tapi, bapak sama mama juga gak bisa
melarang keinginanmu untuk sekolah ketempat yang kamu inginkan. Jadi, kita
berdua dukung kamu untuk melanjutkan study ke tempat yang kamu mau.” Sontak
pernyataan mama dan bapak membuatku begitu senang. Apa yang kuinginkan selama
ini ternyata mereka dukung dengan senang hati.
***
2 bulan telah berlalu. Kini aku
sudah menginjakkan kaki di tempat yang begitu kuidam-idamkan sejak dulu, Pondok
Pesantren. Aku menempuh pendidikan di pesantren bernama Nurul Hakim. Letaknya
strategis serta Tuan Guru[1]
yang juga hebat dan terkenal membuat pondok pesantren ini sangat dikenal oleh
banyak kalangan dari seluruh daerah di Bali dan Nusa Tenggara[2].
13 Juli 2009, hari pertama
orientasi pesantren. Dipesantren ini ada begitu banyak teman yang berasal dari
berbagai daerah dengan berbagai corak suku, budaya, serta karakter yang
berbeda-beda. Dengan berbagai perbedaan itulah, aku belajar untuk lebih
memahami dan mengerti mereka, serta dari mereka aku mendapat wawasan yang
semakin luas.
Bulan-bulan pertama ku tempuh
dengan begitu sulit. Berat bagiku menghadapi semuanya. Karena harus beradaptasi
dengan lingkungan yang baru, teman baru, juga guru-guru baru yang juga berasal
dari daerah yang berbeda-beda serta dari berbagai disiplin ilmu yang
berbeda-beda pula. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa memahami
sedikit demi sedikit karakter mereka, dan mencoba memahami banyak cara mereka
bergaul dengan orang-orang disekitarnya.
Belajar di Nurul Hakim begitu
menyenangkan, selain karena teman-teman yang baik dan bersahabat, juga karena
guru-guru yang stay 24 jam menemani dan mengajarkan serta menasehati kami.
System pembelajaran yang full hours didukung dengan guru yang berasal dari
berbagai disiplin ilmu juga fasilitas pondok pesantren yang memadai.
3 bulan pertama, semua santri
baru tidak diwajibkan untuk menggunakan bahasa arab. Melainkan masih dalam
tahap penyesuaian bahasa. Sehingga ada keringanan bagiku untuk menggunakan
bahasa Indonesia. Namun, itu tak berlaku untuk bahasa daerah. Karena semua
wajib menggunakan bahasa Indonesia alias Haraaman
‘alainaa nasta’miluu lughotul assasaki. Untuk bisa menyesuaikan diri dengan
cepat dalam berbahasa arab, aku mencoba untuk lebih banyak menghafal kosakata
atau mufradat bahasa arab. Karena di Nurul Hakim wajib menggunakan Bahasa Arab.
Cara itu sedikit membantu, karena dengan mengetahui kosakatanya, maka itu dapat
mempermudah dalam mengingat dan mengucapkan kata-katanya. Meski terkadang salah
dan di tegur oleh kakak kelas yang sudah lebih fasih berbahasa dibandingkan
aku.
Teguran akan kesalahan terkadang
membuat semangat luluh. Tapi itu tidak berlaku bagiku. Bagitu ditegur karena
salah, aku justru semakin semangat dan berusaha untuk memperbaiki kesalah yang
pernah kubuat. Sehingga batas waktu toleransi berbahasa yang 3 bulan bisa aku
sudah bisa menyesuaikan diri untuk tidak menggunakan bahasa Indonesia lagi.
***
“halo semua, apa kabar kalian?”
salam pembuka dengan muka yang cukup sangar tepat berada didepanku. Ya, karena
saat itu aku duduk di garda paling depan bersama sahabatku.
“Alhamdulillah luar biasa.” Kami
menjawab pertanyaan Pengurus Bagian Bahasa OP3NH[3].
“Ingat sudah berapa bulan kalian
disini? 3 bulan! Itu artinya apa, malam ini adalah malam terakhir kalian
berbahasa. Dan itu artinya bahwa mulai besok begitu bangun sholat tahajjud dan
sholat subuh, labudda lakunna alaikunna antasta’milna lughotul arabiyyah.
Fahimtunna??”
“fahimna!!!!” Teriak semua
santriwati menjawab pernyataan bagian bahasa OP3NH.
Setelah mengucapkan salam dan
menutup pertemuan malam itu, aku masih duduk sejenak dan merenungi apa yang
akan terjadi besok. Berbahasa arab penuh. Tak ada lagi bahasa Indonesia.
Pikiranku melayang entah berantah kemana. Apa jadinya jika dalam hidupku tak
lagi kudengar bahasa Indonesia. Apa jadinya jika tiba-tiba aku tak bisa
berbahasa Indonesia lagi jika telah fasih menggunakan bahasa Arab. “Ahh.. aku
ini ada-ada aja. Gak mungkinlah itu terjadi. Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu”
Gumamku dalam hati.
Perlahan kuperhatikan semua sudut
ruangan yang semakin sepi. Tak ada lagi orang satupun. Hanya ada daun pintu
serta sapaan angin yang sesekali mengajakku untuk segera bergegas ke kamar dan
bersiap untuk melayang jauh ke alam mimpi.
***
“bangun.. bangun..” ajakan
seorang teman yang begitu setia selalu membangunkanku setiap pagi.
“iya, ini aku bangun. Makasih
udah membangunkan.” Ucapku sambil melemparkan senyum padanya.
“eh, ingat ya. Hari ini tidak ada
lagi bahasa Indonesia. Kita bermusuhan dalam hal bahasa ya.
Aku hanya tersenyum. Lalu
bergegas mengambil air wudhu dan mendirikan sholat tahajjud 4 rakaat. Seperti
biasanya, setelah sholat kucoba utarakan semua keluh kesahku pada-Nya.
Kuutarakan segala keinginanku agar di amini-Nya. Semua harapan dan cita-cita
besarku ku ceritakan pada-Nya. Tak terkecuali keinginanku untuk bisa berbahasa
Arab setelah selama 3 bulan di tempa untuk mulai membiasakan diri menggunakan
bahasa Arab.
Pagi menjelang, sinar mentari
mulai menyapa pagi. Dengan mengucap bismillah mau tak mau, suka tak suka, aku
harus membiasakan diri untuk berbahasa. Iya, begitulah seharusnya. Aku harus
keluar dari zona nyaman ini agar aku terbiasa dan bisa menikmati segalanya.
Sebelum masuk kelas, tak ada bahasa Indonesia satupun yang kudengar, baik itu
dari teman-temanku sendiri maupun dari angkatan-angkatan atas atau bahkan
Pembina asrama. Namun syukurnya di sekolah masih ada toleransi berbahasa,
sehingga setiap guru harus masih bisa menggunakan bahasa Indonesia dalam
menjelaskan dan kami pun masih bisa bertanya dan menjawab dengan bahasa
Indonesia. Aku tak habis piker, bagaimana jika didalam kelas semua wajib
menggunakan bahasa Arab.
***
“Shobahul khair….” Kalimat
pembuka yang begitu membawa semangat. Pagi yang meninggi. Hingga semua manusia
telah disibukkan dengan aktivitas baru di pagi ini.
Masuk tahun ketiga dipesantren.
Tidak lagi terasa seperti 3 bulan pertama kewajiban berbahasa arab. Sudah lama
itu berlalu. Tapi tetap terkenang hingga kini. Perjuangan untuk mulai
menggunakan bahasa asing itu rasanya memang sulit. Tapi ternyata itu semua
mungkin.
Mulai terbiasa menggunakan bahasa
arab benar-benar meredupkan bayangan anehku 2 tahun silam ketika aku berfikir
gimana jadinya bahasa Indonesiaku. Andai saja aku berhadapan langsung dengan
orang-orang yang berasal dari jazirah arab, aku pun siap untuk berkomunikasi
dan berbagi cerita dengan mereka. Tidak terlalu fasih sih, tapi setidaknya aku
punya keberanian untuk berkomunikasi dengan mereka.
Kini waktu liburan. Berbagai rasa
bercampur dalam satu dekapan, bahagia. Tak sabar lagi ingin segera bertemu
dengan orangtua tercinta. Ingin rasanya berlari sekencang-kencangnya. Namun
kutakut jika terjatuh. Ingin terbang bagai supersonic untuk segera bertemu
dengannya. Namun itu tak mungkin. 8 bulan tak bertemu orangtua. Rindu akan
dekapannya yang selalu setia menemani dan selalu menyayangi tanpa pamrih. “Ma,
Pa, tunggu aku dirumah.” Gumamku dalam hati.
Selepas kata pelepasan dari
pimpinan pesantren, kini aku sudah siap untuk pulang. Semua barang-barang dan
pakaian yang mesti kubawa pulang telah terlipat rapi didalam tas. Tak ada lagi
yang perlu diurus. Hanya menunggu bus yang siap membawa kami membelah gumpalan
udara yang menghadang dijalanan. Menempuh gelombang ombak yang riuh bertasbih
pada-Nya.
***
Bus datang. Sorak senang berampur
sedih datang mengendap menyeliputi sumsum otak. Senang akan bertemu dengan
orangtua. Sedih meninggalkan sejenak tempat yang begitu memberi banyak
pelajaran dan ribuan makna ini, walau hanya sejenak.
“semua siap pulang?” Tanya
coordinator perjalanan pulang.
“siap!!!” sambut kami seraya
mengempalkan tangan kanan tanda semangat yang membara.
Aku tak sabar lagi ingin
bercerita pada mama tentang hariku yang begitu indah. Tentang cinta, tentang
cita. Tentang pelajaran dan semua hal yang kualami selama 8 bulan tak bertemu
dengannya. Akan peluk erat tubuhnya yang selalu menjadi pemacu semangatku.
Ingin kucium keningnya yang selalu memberikanku kasih sayang tiada tara. “pa,
ma, aku pulang.” Lagi ku bergumam dan ingin rasanya berteriak. “aku
pulaangg……..” namun itu hanya dalam hati.
Bus berangkat. Rodanya terus
berputar mengitari jalanan panjang mataram – Sumbawa Besar. ditengah
perjalanan, sudah tidak ada lagi yang sadar. Ada yang terlelap dalam mimpi. Ada
yang sekedar iseng sendiri. Hanya aku yang masih segar dengan mata berbinar
melihat sang driver yang terus memacu kendaraannya.
Tak butuh waktu lama, bus yang
kutumpangi kini telah tiba di pelabuhan Khayangan. Jembatan penghubung Sumbawa
dan Lombok. Tanpa pelabuhan ini, aku takkan mungkin bisa menginjakkan kaki ditanah
kelahiranku. Sebelum masuk kedalam kapal, supir menyuruh semua penumpang untuk
keluar dan jalan kaki menaiki kapal. Aku sendiri tak paham apa maksudnya. Aku
hanya bisa mengikuti instruksinya dan melaksanakannya. Bersama rombongan yang
lain, aku melangkah menuju kapal yang telah bersandar di dermaga menyambut
kedatangan kami yang siap berlayar bersamanya mengarungi lautan selat Alas.
Semua angkutan telah menaiki
kapal. Suara bel pertanda keberangkatan pun berbunyi dilantai paling atas
kapal. Kami berangkat. Siap mengarungi selat alas yang begitu indah. Melihat
kapal yang telah dipenuhi banyak penumpang. Aku perhatikan satu persatu setiap
penumpang yang ada didalamnya. Sepertinya semua penumpang tak seperti penumpang
yang biasanya kunaiki setiap pulang atau balik ke pondok pesantren. Tak ada
ibu-ibu. Tak ada bapak-bapak. Hampir semua penumpang seumuran dan ada yang
sedikit lebih dewasa dariku. Dengan pakaian yang tak jauh berbeda dengan
teman-teman sejawadku dari pesantren. Ya, sepertinya mereka juga berasal dari
pesantren. Namun, aku tak tau dari pesantren mana mereka berasal. Riuh senang
dan gembira bercampur aduk dalam jiwaku. Rasanya ingin kenal dengan teman yang
tidak hanya berasal dari pesantrenku saja. Tapi juga dari pesantren lainnya.
Sesekali aku berdiri dan
mengelilingi kapal yang tak begitu besar ini. Jika di bandingkan dengan kapal
Titanic atau Nabi Nuh. Itu artinya tak perlu waktu yang banyak jika ingin
mengelilingi kapal sekecil ini. Dari lantai 2 hingga lantai atas, ku itari satu
persatu. “indah!” pandangan kulempar kesemua penjuru lautan yang luas.
***
3 tahun berlalu, kini aku telah
berada di level tertinggi pesantren ini. Kelas 3 SMK. Ada banyak cerita yang
tak mampu kutuliskan secara rinci dan lengkap disini. Namun semua hal itu akan
tetap terkenang sampai kapanpun. Pendidikan adalah titik berat hidup yang harus
kujalani. Harus tetap berusaha untuk mencapai kesuksesan luar biasa. Menjadi
manusia diatas rata-rata adalah salah satu kunci sukses para suksesor besar.
dan itu adalah PR besar yang harus kuusahakan.
Entah berapa lama aku termenung
di depan computer ini. Mencoba untuk daftar seleksi beasiswa Etos. Mencoba bercerita
tentang masa lalu hingga masa depan. Mencoba mengulas kembali segala cerita
yang begitu indah dan menyenangkan.
Karena allah kita bisa.
ABOUTME
Hi all. This is deepak from Bthemez. We're providing content for Bold site and we’ve been in internet, social media and affiliate for too long time and its my profession. We are web designer & developer living India! What can I say, we are the best..







0 comments:
Post a Comment