Welcome

Ahmad Alimuddin

Programming - Design - Creativity - Activity - Innovation - Network

Follow us on G+

Sebelum Senja Menyapa



BIOGRAFI AJENG RETNO WULANDARI
Ajeng Retno Wulandari, itulah nama yang diberikan kedua orangtua ketika aku lahir dan mulai merasakan segarnya udara dunia. aku lahir di desa kecil bernama Bage Tango yang tak jauh di pusat Kota Sumbawa Besar. dilahirkan dari kedua orang tua yang luar biasa, Zubaida dan Misno Wardana. Mereka sangat sayang kepadaku. Hingga rasa cinta dan sayangnya itu tak mampu ku ukir.
Aku lahir di kota kecil yang begitu bersejarah bagiku, Sumbawa Besar. Kota kecil yang mengajarkanku memahami dunia. Kota kecil yang mengajarkanku memahami ilmu pengetahuan dan mengenalkanku pada teman-teman yang begitu inspiratif juga guru-guru yang selalu memberi inovasi. Pendidikan dasar kumulai di Sekolah Dasar Negeri Langam, sebuah sekolah kecil di kecamatan Langam. Tak gampang bersekolah di daerah terpencil seperti ini, namun segala suka dan duka itu selalu kuhadapi dengan senyum dan terus kucoba memompa semangatku meski itu sulit. Ya, tapi semuanya mungkin, itulah hal yang selalu ditanamkan kedua orangtuaku sejak kecil hingga saat ini.
Disekolah dasar aku belajar memahami semuanya, belajar memahami pelajaran, teman-teman, guru, juga orangtua yang tak pernah lepas dari diri dan hidupku. Memang tak banyak yang mampu kuingat dari setiap ceritaku di Sekolah Dasar, namun ada 1 hal yang selalu kuingat hingga saat ini, yaitu betapa kedua orangtuaku berjuang banting tulang mencari nafkah untuk kelanjutan sekolahku juga untuk masa depanku.
6 tahun menempuh pendidikan dasar bukanlah waktu yang singkat. Gerbang utama mencapai mimpi itu kulalui dengan berbagai suka dan duka. Susah senang kulalui dengan hasil memuaskan di akhir ceritaku di sekolah. Gerbang itu kututup dengan harapan yang begitu tinggi, ya aku harus melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi, Sekolah Menengah Pertama.
Ketika semua teman dengan bangga memperebutkan sekolah-sekolah umum favorit yang mereka sukai dan harapkan, anganku justru melayang jauh ke tempat yang tak pernah dibayangkan teman-temanku, Pondok Pesantren. Keinginan masuk dan melanjutkan study di pondok pesantren adalah keinginan yang sudah ada sejak aku menginjakkan kaki di kelas 4 SD. Namun, hal itu belum berani kuutarakan pada kedua orangtuaku. Aku tak berani mengutarakan keinginanku itu karena aku takut jika mereka tau, aku tak mampu melihat mereka harus banting tulang kesana kemari mencari biaya untuk pendidikan kukelak. Hingga akhirnya, keinginan itu kuutarakan kepada keduanya selepas hari perpisahan siswa kelas 6 saat itu. Rasa takut, bingung menyatu bagai kegelapan yang membalut otakku. Namun, kucoba tahan dan menunggu apa sekiranya jawaban yang akan mereka berikan kepadaku.
Malam itu, aku dipanggil dan meminta bertemu dan duduk santai bersama mereka di depan rumah. Sambil memandangi langit dan bintang yang sesekali mengedipkan mata padaku, aku mencoba tersenyum kepada keduanya menunggu apa kiranya jawaban yang akan di berikan kepadaku.
“Gimana perpisahan kemaren?” Tanya bapak padaku.
Pertanyaan itu setidaknya membuang semua rasa takut, cemas dan gelisahku sejenak. Setidaknya ada angin segar yang bisa kuhirup sebelum mereka benar-benar memberikan jawabannya kepadaku.
“Alhamdulillah, saya senang pak bisa selesai dengan dari sekolah. Dan perpisahan kemaren cukup menarik.” Jawaban lugu seorang anak kecil yang tak mampu kulupakan dan selalu membuatku tertawa geli jika mengingat malam itu.
Mereka berdua tertawa melihatku. Tawa dan canda mereka sirna perlahan ketika mereka menanyakan hal yang telah kuutarakan sebelumnya pada mereka.
“mama boleh tau gak, kenapa kamu mau ke Pesantren? Kenapa gak disini aja.” Tanya mama padaku.
Jantungku berdegup kencang. Pikiranku mulai terbelah, hancur perlahan dan hilang. Aku bingung entah bagaimana menjelaskannya. Namun yang aku tau, aku hanya ingin sekolah di Pondok Pesantren. Aku ingin hidup dilingkungan yang terjaga, hidup dilingkungan yang mengenalkanku kemandirian, kedisiplinan, dan persahabatan yang begitu erat dan tentunya ilmu yang begitu luas. Baik itu pelajaran umum seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya juga ilmu agama yang tak kudapatkan di sekolah-sekolah umum.
Dengan lugu dan takut, aku mencoba menjelaskan keinginan itu. Mereka mencoba mengangguk dan anggukan itu adalah isyarat bahwa mereka mengerti keinginanku. Tapi jawaban itu belum juga keluar dari keduanya. Aku mulai lesu dan patah semangat. Karena aku tak tau sama sekali, apakah aku akan didukung untuk masuk pesantren ataukah tidak.
“jeng, bapak dan mama gak bisa begitu saja melepasmu pergi ketempat yang begitu jauh.” Dug, aku sontak kaget dengan pernyataan pertama dari keduanya. “tapi, bapak sama mama juga gak bisa melarang keinginanmu untuk sekolah ketempat yang kamu inginkan. Jadi, kita berdua dukung kamu untuk melanjutkan study ke tempat yang kamu mau.” Sontak pernyataan mama dan bapak membuatku begitu senang. Apa yang kuinginkan selama ini ternyata mereka dukung dengan senang hati.
***
2 bulan telah berlalu. Kini aku sudah menginjakkan kaki di tempat yang begitu kuidam-idamkan sejak dulu, Pondok Pesantren. Aku menempuh pendidikan di pesantren bernama Nurul Hakim. Letaknya strategis serta Tuan Guru[1] yang juga hebat dan terkenal membuat pondok pesantren ini sangat dikenal oleh banyak kalangan dari seluruh daerah di Bali dan Nusa Tenggara[2].
13 Juli 2009, hari pertama orientasi pesantren. Dipesantren ini ada begitu banyak teman yang berasal dari berbagai daerah dengan berbagai corak suku, budaya, serta karakter yang berbeda-beda. Dengan berbagai perbedaan itulah, aku belajar untuk lebih memahami dan mengerti mereka, serta dari mereka aku mendapat wawasan yang semakin luas.
Bulan-bulan pertama ku tempuh dengan begitu sulit. Berat bagiku menghadapi semuanya. Karena harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru, teman baru, juga guru-guru baru yang juga berasal dari daerah yang berbeda-beda serta dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda-beda pula. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa memahami sedikit demi sedikit karakter mereka, dan mencoba memahami banyak cara mereka bergaul dengan orang-orang disekitarnya.
Belajar di Nurul Hakim begitu menyenangkan, selain karena teman-teman yang baik dan bersahabat, juga karena guru-guru yang stay 24 jam menemani dan mengajarkan serta menasehati kami. System pembelajaran yang full hours didukung dengan guru yang berasal dari berbagai disiplin ilmu juga fasilitas pondok pesantren yang memadai.
3 bulan pertama, semua santri baru tidak diwajibkan untuk menggunakan bahasa arab. Melainkan masih dalam tahap penyesuaian bahasa. Sehingga ada keringanan bagiku untuk menggunakan bahasa Indonesia. Namun, itu tak berlaku untuk bahasa daerah. Karena semua wajib menggunakan bahasa Indonesia alias Haraaman ‘alainaa nasta’miluu lughotul assasaki. Untuk bisa menyesuaikan diri dengan cepat dalam berbahasa arab, aku mencoba untuk lebih banyak menghafal kosakata atau mufradat bahasa arab. Karena di Nurul Hakim wajib menggunakan Bahasa Arab. Cara itu sedikit membantu, karena dengan mengetahui kosakatanya, maka itu dapat mempermudah dalam mengingat dan mengucapkan kata-katanya. Meski terkadang salah dan di tegur oleh kakak kelas yang sudah lebih fasih berbahasa dibandingkan aku.
Teguran akan kesalahan terkadang membuat semangat luluh. Tapi itu tidak berlaku bagiku. Bagitu ditegur karena salah, aku justru semakin semangat dan berusaha untuk memperbaiki kesalah yang pernah kubuat. Sehingga batas waktu toleransi berbahasa yang 3 bulan bisa aku sudah bisa menyesuaikan diri untuk tidak menggunakan bahasa Indonesia lagi.
***
“halo semua, apa kabar kalian?” salam pembuka dengan muka yang cukup sangar tepat berada didepanku. Ya, karena saat itu aku duduk di garda paling depan bersama sahabatku.
“Alhamdulillah luar biasa.” Kami menjawab pertanyaan Pengurus Bagian Bahasa OP3NH[3].
“Ingat sudah berapa bulan kalian disini? 3 bulan! Itu artinya apa, malam ini adalah malam terakhir kalian berbahasa. Dan itu artinya bahwa mulai besok begitu bangun sholat tahajjud dan sholat subuh, labudda lakunna alaikunna antasta’milna lughotul arabiyyah. Fahimtunna??”
“fahimna!!!!” Teriak semua santriwati menjawab pernyataan bagian bahasa OP3NH.
Setelah mengucapkan salam dan menutup pertemuan malam itu, aku masih duduk sejenak dan merenungi apa yang akan terjadi besok. Berbahasa arab penuh. Tak ada lagi bahasa Indonesia. Pikiranku melayang entah berantah kemana. Apa jadinya jika dalam hidupku tak lagi kudengar bahasa Indonesia. Apa jadinya jika tiba-tiba aku tak bisa berbahasa Indonesia lagi jika telah fasih menggunakan bahasa Arab. “Ahh.. aku ini ada-ada aja. Gak mungkinlah itu terjadi. Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu” Gumamku dalam hati.
Perlahan kuperhatikan semua sudut ruangan yang semakin sepi. Tak ada lagi orang satupun. Hanya ada daun pintu serta sapaan angin yang sesekali mengajakku untuk segera bergegas ke kamar dan bersiap untuk melayang jauh ke alam mimpi.
***
“bangun.. bangun..” ajakan seorang teman yang begitu setia selalu membangunkanku setiap pagi.
“iya, ini aku bangun. Makasih udah membangunkan.” Ucapku sambil melemparkan senyum padanya.
“eh, ingat ya. Hari ini tidak ada lagi bahasa Indonesia. Kita bermusuhan dalam hal bahasa ya.
Aku hanya tersenyum. Lalu bergegas mengambil air wudhu dan mendirikan sholat tahajjud 4 rakaat. Seperti biasanya, setelah sholat kucoba utarakan semua keluh kesahku pada-Nya. Kuutarakan segala keinginanku agar di amini-Nya. Semua harapan dan cita-cita besarku ku ceritakan pada-Nya. Tak terkecuali keinginanku untuk bisa berbahasa Arab setelah selama 3 bulan di tempa untuk mulai membiasakan diri menggunakan bahasa Arab.
Pagi menjelang, sinar mentari mulai menyapa pagi. Dengan mengucap bismillah mau tak mau, suka tak suka, aku harus membiasakan diri untuk berbahasa. Iya, begitulah seharusnya. Aku harus keluar dari zona nyaman ini agar aku terbiasa dan bisa menikmati segalanya. Sebelum masuk kelas, tak ada bahasa Indonesia satupun yang kudengar, baik itu dari teman-temanku sendiri maupun dari angkatan-angkatan atas atau bahkan Pembina asrama. Namun syukurnya di sekolah masih ada toleransi berbahasa, sehingga setiap guru harus masih bisa menggunakan bahasa Indonesia dalam menjelaskan dan kami pun masih bisa bertanya dan menjawab dengan bahasa Indonesia. Aku tak habis piker, bagaimana jika didalam kelas semua wajib menggunakan bahasa Arab.
***
“Shobahul khair….” Kalimat pembuka yang begitu membawa semangat. Pagi yang meninggi. Hingga semua manusia telah disibukkan dengan aktivitas baru di pagi ini.
Masuk tahun ketiga dipesantren. Tidak lagi terasa seperti 3 bulan pertama kewajiban berbahasa arab. Sudah lama itu berlalu. Tapi tetap terkenang hingga kini. Perjuangan untuk mulai menggunakan bahasa asing itu rasanya memang sulit. Tapi ternyata itu semua mungkin.
Mulai terbiasa menggunakan bahasa arab benar-benar meredupkan bayangan anehku 2 tahun silam ketika aku berfikir gimana jadinya bahasa Indonesiaku. Andai saja aku berhadapan langsung dengan orang-orang yang berasal dari jazirah arab, aku pun siap untuk berkomunikasi dan berbagi cerita dengan mereka. Tidak terlalu fasih sih, tapi setidaknya aku punya keberanian untuk berkomunikasi dengan mereka.
Kini waktu liburan. Berbagai rasa bercampur dalam satu dekapan, bahagia. Tak sabar lagi ingin segera bertemu dengan orangtua tercinta. Ingin rasanya berlari sekencang-kencangnya. Namun kutakut jika terjatuh. Ingin terbang bagai supersonic untuk segera bertemu dengannya. Namun itu tak mungkin. 8 bulan tak bertemu orangtua. Rindu akan dekapannya yang selalu setia menemani dan selalu menyayangi tanpa pamrih. “Ma, Pa, tunggu aku dirumah.” Gumamku dalam hati.
Selepas kata pelepasan dari pimpinan pesantren, kini aku sudah siap untuk pulang. Semua barang-barang dan pakaian yang mesti kubawa pulang telah terlipat rapi didalam tas. Tak ada lagi yang perlu diurus. Hanya menunggu bus yang siap membawa kami membelah gumpalan udara yang menghadang dijalanan. Menempuh gelombang ombak yang riuh bertasbih pada-Nya.
***
Bus datang. Sorak senang berampur sedih datang mengendap menyeliputi sumsum otak. Senang akan bertemu dengan orangtua. Sedih meninggalkan sejenak tempat yang begitu memberi banyak pelajaran dan ribuan makna ini, walau hanya sejenak.
“semua siap pulang?” Tanya coordinator perjalanan pulang.
“siap!!!” sambut kami seraya mengempalkan tangan kanan tanda semangat yang membara.
Aku tak sabar lagi ingin bercerita pada mama tentang hariku yang begitu indah. Tentang cinta, tentang cita. Tentang pelajaran dan semua hal yang kualami selama 8 bulan tak bertemu dengannya. Akan peluk erat tubuhnya yang selalu menjadi pemacu semangatku. Ingin kucium keningnya yang selalu memberikanku kasih sayang tiada tara. “pa, ma, aku pulang.” Lagi ku bergumam dan ingin rasanya berteriak. “aku pulaangg……..” namun itu hanya dalam hati.
Bus berangkat. Rodanya terus berputar mengitari jalanan panjang mataram – Sumbawa Besar. ditengah perjalanan, sudah tidak ada lagi yang sadar. Ada yang terlelap dalam mimpi. Ada yang sekedar iseng sendiri. Hanya aku yang masih segar dengan mata berbinar melihat sang driver yang terus memacu kendaraannya.
Tak butuh waktu lama, bus yang kutumpangi kini telah tiba di pelabuhan Khayangan. Jembatan penghubung Sumbawa dan Lombok. Tanpa pelabuhan ini, aku takkan mungkin bisa menginjakkan kaki ditanah kelahiranku. Sebelum masuk kedalam kapal, supir menyuruh semua penumpang untuk keluar dan jalan kaki menaiki kapal. Aku sendiri tak paham apa maksudnya. Aku hanya bisa mengikuti instruksinya dan melaksanakannya. Bersama rombongan yang lain, aku melangkah menuju kapal yang telah bersandar di dermaga menyambut kedatangan kami yang siap berlayar bersamanya mengarungi lautan selat Alas.
Semua angkutan telah menaiki kapal. Suara bel pertanda keberangkatan pun berbunyi dilantai paling atas kapal. Kami berangkat. Siap mengarungi selat alas yang begitu indah. Melihat kapal yang telah dipenuhi banyak penumpang. Aku perhatikan satu persatu setiap penumpang yang ada didalamnya. Sepertinya semua penumpang tak seperti penumpang yang biasanya kunaiki setiap pulang atau balik ke pondok pesantren. Tak ada ibu-ibu. Tak ada bapak-bapak. Hampir semua penumpang seumuran dan ada yang sedikit lebih dewasa dariku. Dengan pakaian yang tak jauh berbeda dengan teman-teman sejawadku dari pesantren. Ya, sepertinya mereka juga berasal dari pesantren. Namun, aku tak tau dari pesantren mana mereka berasal. Riuh senang dan gembira bercampur aduk dalam jiwaku. Rasanya ingin kenal dengan teman yang tidak hanya berasal dari pesantrenku saja. Tapi juga dari pesantren lainnya.
Sesekali aku berdiri dan mengelilingi kapal yang tak begitu besar ini. Jika di bandingkan dengan kapal Titanic atau Nabi Nuh. Itu artinya tak perlu waktu yang banyak jika ingin mengelilingi kapal sekecil ini. Dari lantai 2 hingga lantai atas, ku itari satu persatu. “indah!” pandangan kulempar kesemua penjuru lautan yang luas.
***
3 tahun berlalu, kini aku telah berada di level tertinggi pesantren ini. Kelas 3 SMK. Ada banyak cerita yang tak mampu kutuliskan secara rinci dan lengkap disini. Namun semua hal itu akan tetap terkenang sampai kapanpun. Pendidikan adalah titik berat hidup yang harus kujalani. Harus tetap berusaha untuk mencapai kesuksesan luar biasa. Menjadi manusia diatas rata-rata adalah salah satu kunci sukses para suksesor besar. dan itu adalah PR besar yang harus kuusahakan.
Entah berapa lama aku termenung di depan computer ini. Mencoba untuk daftar seleksi beasiswa Etos. Mencoba bercerita tentang masa lalu hingga masa depan. Mencoba mengulas kembali segala cerita yang begitu indah dan menyenangkan.
Karena allah kita bisa.



[1] Sebutan kiyai bagi orang Lombok
[2] NTB maupun NTT
[3] Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Nurul Hakim

Share this:

ABOUTME

Hi all. This is deepak from Bthemez. We're providing content for Bold site and we’ve been in internet, social media and affiliate for too long time and its my profession. We are web designer & developer living India! What can I say, we are the best..

JOIN CONVERSATION

    Blogger Comment

0 comments:

Post a Comment